Ajang Sains Education Award yang diadakan oleh ITSF (Indonesia Toray Science Fondation) program ke 18. Berdasarkan hasil seleksi terhadap 90 Proposal ilmiah yang dikirimkan oleh guru guru di seluruh Indonesia,komite seleksi yang terdiri atas Prof.Dr.Benny Suprapto Brotosiswoyo, Prof.Muzayanah Sutikno,M.Pd dan Herwindo Hariwibowo,Ph.D menetapkan 15 guru terpilih untuk diwawancarai.Proses wawancara adalah untuk menjelaskan ide ide inovatif yang telah dijalankan oleh guru selama proses belajar mengajar berlangsung di kelas.
Inilah pengumuman asli yang di ambil dari website resmi ITSF http://www.itsf.or.id/main/news
15 SEA Interview List Program Year 2011
14 October 2011
ITSF has selected 15 candidates for the Science Education Award 2011 recipients who are invited to attend to the ITSF Jakarta, to conduct an interview session, which will be held on:
Day & Date : Wednesday & Thursday, 26 & 27 October 2011
Time : 08.00 ~ done
Place : ITSF Office
Summitmas II Building - 3rd Floor
Jl. Jenderal Sudirman Kav. 61-62
Jakarta Selatan 12190
Please attention to the following things:
1. Participants who pass the selection will be contacted directly by mobile phone/fixed phone
2. Official notification letter will be sent directly to the school
3. Participants who residing in the outside Java will be sent a flight ticket
4. ITSF assist the transportation allowance based on the ticket of Bus/Train Executive Class
5. The entire cost of accomodation (lodging & meals) during in Jakarta, is borne by ITSF
6. Participants prepare some tools as a presentation support when present in front of the Selection Committee
1 KOSASIH, S. PD
Male
Biology
SMAK Negeri Model Gorontalo
2 DRS. YOHANES DWI NUGROHO
Male
Biology
SMAN 3 Bandar Lampung
3. DRS. BUDIYANTO SOERYONO, M. PD
Male
Biology
SMAN 1 Sutojaya
Blitar - Jawa Timur
4 SETIYANA, S. PD., M. ENG
Male
Chemistry
SMAN 1 Bandongan
Magelang - Jawa Tengah
5 JAKA SATRI, S. PD
Male
Chemistry
SMK Negeri 1 Air Napal
Bengkulu
6 ROKHANIYAH, S. PD
Female
Physics
SMAN 1 Demak
Demak - Jawa Tengah
7 RUDY BUDIYANTO D, S. PD
Male
Chemistry
SMA Sedes Sapientiae
Semarang - Jawa Tengah
8 ACHMAD ANSORY, S. PD
Male
Physics
SMAN 6 Kota Jambi
9 BUDIONO BASUKI, S. PD
Male
Physics
SMAN 1 Woha
Bima - NTB
10 DRA. MASNUN
Female
Chemistry
SMAN 1 Kota Bengkulu
11 PUTU EKA WILANTARA, M. PD
Male
Physics
SMAN 1 Singaraja Bali
12 WAHYU DENI ARYANI, S. PD
Female
Physics
SMA Nasima Semarang
Semarang - Jawa Tengah
13 ALFRED JOSEPH TIBALILATU, S. PD
Male
Biology
SMAN 1 Masohi
Maluku Tengah
14 LILIK MUNTAMAH, M. SI
Female
Biology
MAN Negara Bali
15 RUSLAN, S. SI
Male
Chemistry
SMAN 2 Lambu Bima - NTB
Alfred Joseph Tibalilatu, S.Pd.,M.Pd ( SMA Negeri I Masohi ) Kabupaten Maluku Tengah Maluku alfredaped60@yahoo.com
Minggu, 13 November 2011
Senin, 03 Oktober 2011
PENGEMBANGAN KELOMPOK ILMIAH REMAJA(KIR) DI SMA NEGERI I MASOHI KABUPATEN MALUKU TENGAH
SMA NEGERI I MASOHI yang beralamat di jalan banda no 28 Masohi adalah Sekolah Standar Nasional Kategori Mandiri yang di dalam proses belajar mengajar telah mengembangkan KIR(Kelompok Ilmiah Remaja)yang melibatkan guru dan siswa
Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) adalah kelompok remaja yang melakukan serangkaian kegiatan yang menghasilkan suatu hasil yang disebut karya ilmiah. Karya ilmiah itu sendiri mempunyai arti sebagai suatu karya yang dihasilkan melalui cara berpikir yang menurut kaidah penalaran yang logis, sistematis, rasional dan ada koherensi antar bagian-bagiannya. Sebagai suatu kegiatan ekstrakurikuler di tingkatan SLTP, SMU, SMK, Madrasah bahkan Pondok Pesantren, Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) ini merupakan suatu organisasi yang sifatnya terbuka bagi para remaja yang ingin mengembangkan kreativitas, ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa kini maupun masa mendatang.
SEJARAH TERBENTUKNYA DI INDONESIA
Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) atau Youth Science Club (YSC) awalnya dibentuk untuk remaja yang berusia sekitar 12-18 tahun oleh UNESCO pada tahun 1963, tetapi pada tahun 1970 batasan umur tersebut dirubah menjadi 12-21 tahun. Youth Science Club (YSC) di Indonesia dikenal dengan nama Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) yang terbentuk atas inisiatif remaja Indonesia sendiri. Diawali pada tahun 1969, Koran Harian Berita Yudha membentuk Remaja Yudha Club (RYC). Selanjutnya setelah difasilitasi oleh LIPI dan mengalami berbagai perkembangan, Remaja Yudha Club berubah menjadi Kelompok Ilmiah Remaja (KIR).
TUJUAN
Tujuan yang harus dicapai oleh anggota KIR secara individual adalah pengembangan sikap ilmiah,kejujuran dalam memecahkan gejala alam yang ditemui dengan kepekaan yang tinggi dengan metode yang sistematis, objektif, rasional dan berprosedur sehingga akan didapatkan kompetensi untuk mengembangkan diri dalam kehidupan.
MANFAAT
Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) yang dikembangkan di sekolah mempunyai berbagai manfaat bagi siswa, guru pembimbing maupun bagi sekolah, antara lain sebagai berikut…
1. Manfaat Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) bagi siswa adalah
1. Membangkitkan rasa ingin tahu terhadap fenomena alam yang berhubungan dengan iptek;
2. Meningkatkan daya nalar terhadap fenomen-fenomena alam;
3. Meningkatkan data kreasi dan daya kreatif serta daya kritis;
4. Menambah wawasan terhadap iptek;
5. Meningkatkan keterampilan menguasai iptek;
6. Meningkatkan minat baca terhadap iptek;
7. Memperluas wawasan komunikasi melalui pengalaman diskusi, debat dan presentasi ilmiah;
8. Mengenal cara-cara berorganisasi;
9. Sebagai wahana untuk menempa kematangan sikap dan kepribadian;
10. Mengenal sifat-sifat ilmiah, jujur, optimis, terbuka, pemberani, toleransi, kreatif, kritis, dan skeptis;
11. Sebagai ajang uji coba prestasi dan prestise;
12. Membuka kesempatan untuk mendapatkan prioritas melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.
2. Manfaat Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) bagi guru pembimbing adalah
1. Menambah wawasan ilmu pengetahuan secara luas;
2. Menambah keterampilan membimbing kelompok ilmiah remaja;
3. Meningkatkan rasa ingin tahu terhadap iptek;
4. Meningkatkan minat baca terhadap iptek;
5. Menambah pengetahuan dalam menunjang kegiatan belajar mengajar di sekolah;
6. Mengenal sikap-sikap dan perkembangan pribadi-pribadi siswa lebih mendalam;
7. Meningkatkan kesejahteraan hidup.
3. Manfaat Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) bagi sekolah adalah
1. Memberikan nilai tambah dan nilai unggulan kompetitif bagi sekolah;
2. Menambah keterampilan dalam mengelola dan mengembangkan sekolah;
3. Memperluas hubungan kerja sama dengan instansi lainnya;meningkatkan situasi dan kondisi sekolah yang kondusif untuk belajar;
4. Menambah fungsi sekolah lanjutan/menengah sebagai tempat pengembangan riset/penelitian.
STRUKTUR ORGANISASI KIR SEKOLAH (UMUM)
MEMBENTUK KIR DI SEKOLAH
Ada beberapa hal yang harus dijadikan bahan pertimbangan dalam membentuk Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) di Sekolah, diantaranya adalah waktu kegiatan KIR. Karena Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) merupakan kegiatan di luar jam pelajaran sekolah maka, kita harus cerdik dalam menentukan waktu kegiatan, baik untuk kegiatan yang memerlukan waktu yang panjang maupun waktu yang pendek. Setelah itu baru membentuk kelengkapan organisasi seperti kepengurusan, program kerja, pembimbing maupun penerimaan anggota, yang harus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan di sekolah masing-masing.
MACAM KEGIATAN KIR
Kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi KIR pada prinsipnya harus tidak mengganggu kegiatan akademik, dan diharapkan menuju pada profesionalisme. Berbagai kegiatan yang dilakukan oleh KIR agar lebih bervariasi terbentuk dalam dua skala, yaitu skala besar dan skala kecil. Adapun skala besar adalah seperti, pertemuan ilmiah, penataran dan pelatihan serta perkemahan dan wisata ilmiah. Sedangkan untuk skala kecil seperti, aktivitas keadminstrasian, aktivitas penerangan, pelaksanaan penelitian, presentasi karya dan aplikasi karya.
PENDANAAN KIR DI SEKOLAH
Masalah pendanaan yang kerap kali dijadikan perhatian khusus, dapat digali dengan kerja sama bersama sponsorship, dan dapat juga dianggarkan dalam Rencana Anggaran Belanja Sekolah (RABS), dari alumni/alumna maupun persatuan orang tua siswa serta swadaya anggota melalui iuran anggota. Jadi,apabila ada komitmen yang kuat untuk menciptakan iklim ilmiah melalui kelompok ilmiah remaja, dapat dibangun kerangka yang cukup kuat secara perlahan dan pasti untuk mengatasi masalah pendanaan.
SMA negeri I masohi telah menyikapi hal diatas melalui pembentukan kelompok KIR melalui kegiatan Ekstra kurikuler yang kini berjalan dengan baik.
Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) adalah kelompok remaja yang melakukan serangkaian kegiatan yang menghasilkan suatu hasil yang disebut karya ilmiah. Karya ilmiah itu sendiri mempunyai arti sebagai suatu karya yang dihasilkan melalui cara berpikir yang menurut kaidah penalaran yang logis, sistematis, rasional dan ada koherensi antar bagian-bagiannya. Sebagai suatu kegiatan ekstrakurikuler di tingkatan SLTP, SMU, SMK, Madrasah bahkan Pondok Pesantren, Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) ini merupakan suatu organisasi yang sifatnya terbuka bagi para remaja yang ingin mengembangkan kreativitas, ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa kini maupun masa mendatang.
SEJARAH TERBENTUKNYA DI INDONESIA
Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) atau Youth Science Club (YSC) awalnya dibentuk untuk remaja yang berusia sekitar 12-18 tahun oleh UNESCO pada tahun 1963, tetapi pada tahun 1970 batasan umur tersebut dirubah menjadi 12-21 tahun. Youth Science Club (YSC) di Indonesia dikenal dengan nama Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) yang terbentuk atas inisiatif remaja Indonesia sendiri. Diawali pada tahun 1969, Koran Harian Berita Yudha membentuk Remaja Yudha Club (RYC). Selanjutnya setelah difasilitasi oleh LIPI dan mengalami berbagai perkembangan, Remaja Yudha Club berubah menjadi Kelompok Ilmiah Remaja (KIR).
TUJUAN
Tujuan yang harus dicapai oleh anggota KIR secara individual adalah pengembangan sikap ilmiah,kejujuran dalam memecahkan gejala alam yang ditemui dengan kepekaan yang tinggi dengan metode yang sistematis, objektif, rasional dan berprosedur sehingga akan didapatkan kompetensi untuk mengembangkan diri dalam kehidupan.
MANFAAT
Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) yang dikembangkan di sekolah mempunyai berbagai manfaat bagi siswa, guru pembimbing maupun bagi sekolah, antara lain sebagai berikut…
1. Manfaat Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) bagi siswa adalah
1. Membangkitkan rasa ingin tahu terhadap fenomena alam yang berhubungan dengan iptek;
2. Meningkatkan daya nalar terhadap fenomen-fenomena alam;
3. Meningkatkan data kreasi dan daya kreatif serta daya kritis;
4. Menambah wawasan terhadap iptek;
5. Meningkatkan keterampilan menguasai iptek;
6. Meningkatkan minat baca terhadap iptek;
7. Memperluas wawasan komunikasi melalui pengalaman diskusi, debat dan presentasi ilmiah;
8. Mengenal cara-cara berorganisasi;
9. Sebagai wahana untuk menempa kematangan sikap dan kepribadian;
10. Mengenal sifat-sifat ilmiah, jujur, optimis, terbuka, pemberani, toleransi, kreatif, kritis, dan skeptis;
11. Sebagai ajang uji coba prestasi dan prestise;
12. Membuka kesempatan untuk mendapatkan prioritas melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.
2. Manfaat Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) bagi guru pembimbing adalah
1. Menambah wawasan ilmu pengetahuan secara luas;
2. Menambah keterampilan membimbing kelompok ilmiah remaja;
3. Meningkatkan rasa ingin tahu terhadap iptek;
4. Meningkatkan minat baca terhadap iptek;
5. Menambah pengetahuan dalam menunjang kegiatan belajar mengajar di sekolah;
6. Mengenal sikap-sikap dan perkembangan pribadi-pribadi siswa lebih mendalam;
7. Meningkatkan kesejahteraan hidup.
3. Manfaat Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) bagi sekolah adalah
1. Memberikan nilai tambah dan nilai unggulan kompetitif bagi sekolah;
2. Menambah keterampilan dalam mengelola dan mengembangkan sekolah;
3. Memperluas hubungan kerja sama dengan instansi lainnya;meningkatkan situasi dan kondisi sekolah yang kondusif untuk belajar;
4. Menambah fungsi sekolah lanjutan/menengah sebagai tempat pengembangan riset/penelitian.
STRUKTUR ORGANISASI KIR SEKOLAH (UMUM)
MEMBENTUK KIR DI SEKOLAH
Ada beberapa hal yang harus dijadikan bahan pertimbangan dalam membentuk Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) di Sekolah, diantaranya adalah waktu kegiatan KIR. Karena Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) merupakan kegiatan di luar jam pelajaran sekolah maka, kita harus cerdik dalam menentukan waktu kegiatan, baik untuk kegiatan yang memerlukan waktu yang panjang maupun waktu yang pendek. Setelah itu baru membentuk kelengkapan organisasi seperti kepengurusan, program kerja, pembimbing maupun penerimaan anggota, yang harus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan di sekolah masing-masing.
MACAM KEGIATAN KIR
Kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi KIR pada prinsipnya harus tidak mengganggu kegiatan akademik, dan diharapkan menuju pada profesionalisme. Berbagai kegiatan yang dilakukan oleh KIR agar lebih bervariasi terbentuk dalam dua skala, yaitu skala besar dan skala kecil. Adapun skala besar adalah seperti, pertemuan ilmiah, penataran dan pelatihan serta perkemahan dan wisata ilmiah. Sedangkan untuk skala kecil seperti, aktivitas keadminstrasian, aktivitas penerangan, pelaksanaan penelitian, presentasi karya dan aplikasi karya.
PENDANAAN KIR DI SEKOLAH
Masalah pendanaan yang kerap kali dijadikan perhatian khusus, dapat digali dengan kerja sama bersama sponsorship, dan dapat juga dianggarkan dalam Rencana Anggaran Belanja Sekolah (RABS), dari alumni/alumna maupun persatuan orang tua siswa serta swadaya anggota melalui iuran anggota. Jadi,apabila ada komitmen yang kuat untuk menciptakan iklim ilmiah melalui kelompok ilmiah remaja, dapat dibangun kerangka yang cukup kuat secara perlahan dan pasti untuk mengatasi masalah pendanaan.
SMA negeri I masohi telah menyikapi hal diatas melalui pembentukan kelompok KIR melalui kegiatan Ekstra kurikuler yang kini berjalan dengan baik.
Kamis, 11 November 2010
UPAYA MENINGKATKAN MUTU PEMBELAJARAN PADA SEKOLAH YANG BERADA PADA DAERAH TERPENCIL DI PULAU SERAM PROVINSI MALUKU
Beberapa permasalahan yang terjadi :
1. Distribusi Guru tidak merata.
SD: 68 % daerah perkotaan kelebihan guru.
52 % daerah pedesaan kelebihan guru.
66 % daerah terpencil kekurangan guru.
SMP: Kesenjangan antara daerah perkotaan dan
terpencil lebih besar.
SD dan SMP secara bersama-sama:
81 % kelebihan guru.
13 % kekurangan guru.
Mismatch terjadi dalam mapel Bhs. Inggris, OR,
dan Agama.
Jumlah guru di Sekolah Daerah Terpencil kurang.
93% kekurangan guru
Sumber: Teacher Employment and Deployment Survey (2005)
Pulau Seram memiliki wilayah seluas 18.625 km2 , dengan panjang 340 km dan lebar 60 km. Titik tertingginya ialah Gunung Binaiya, setinggi 3.019m di atas permukaan laut.
Pulau Seram memiliki alam pegunungan dan hutan tropis. Produk-produk yang dihasilkan antara lain cengkih, pala, kopra, damar, sagu, ikan, dan minyak. Terdapat satu taman nasional yaitu Taman Nasional Manusela yang terkenal karena banyak hewan dan tumbuhan endemiknya. Untuk mencapai tempat ini dapat ditempuh melalui Desa Yaputih atau Hatu di Kecamatan Tehoru, kurang lebih 100km dari Masohi.
Namun disekitar kawasan taman nasional manusela terdapat desa desa atau Negeri yang memang sulit dijangkau oleh siapapun yang berkunjung kesana,karena harus melewati pegunungan dengan menggunakan jalan kaki,
Tingkat pendidikan pada daerah yang berada di sekitar pegunungan masih jauh dari harapan tujuan pendidikan, tenaga guru bahkan kemampuan kognitif siswa sangat rendah.Untuk itu diupayakan bagaimana meningkatkan kualitas pembelajaran pada sekolah yang berada pada daerah yang sulit dijangkau seperti ini.
Salah satu hal yang dikaji penulis adalah : Penerapan sistim pembelajaran tutorial teman sebaya dan out door learning pada siswa SD SMP maupun SMA pada daerah-daerah yang sulit dijangkau,Hasil penelitian menunjukan efektifitas sistim pembelajaran tutorial sebaya dan out door learning dapat meningkatkan kemampuan kognitif siswa dan minat siswa terhadap pendididkan mencapai target yang diharapkan(hasil penelitian selengkapnya dapat menghubungi penulis)
1. Distribusi Guru tidak merata.
SD: 68 % daerah perkotaan kelebihan guru.
52 % daerah pedesaan kelebihan guru.
66 % daerah terpencil kekurangan guru.
SMP: Kesenjangan antara daerah perkotaan dan
terpencil lebih besar.
SD dan SMP secara bersama-sama:
81 % kelebihan guru.
13 % kekurangan guru.
Mismatch terjadi dalam mapel Bhs. Inggris, OR,
dan Agama.
Jumlah guru di Sekolah Daerah Terpencil kurang.
93% kekurangan guru
Sumber: Teacher Employment and Deployment Survey (2005)
Pulau Seram memiliki wilayah seluas 18.625 km2 , dengan panjang 340 km dan lebar 60 km. Titik tertingginya ialah Gunung Binaiya, setinggi 3.019m di atas permukaan laut.
Pulau Seram memiliki alam pegunungan dan hutan tropis. Produk-produk yang dihasilkan antara lain cengkih, pala, kopra, damar, sagu, ikan, dan minyak. Terdapat satu taman nasional yaitu Taman Nasional Manusela yang terkenal karena banyak hewan dan tumbuhan endemiknya. Untuk mencapai tempat ini dapat ditempuh melalui Desa Yaputih atau Hatu di Kecamatan Tehoru, kurang lebih 100km dari Masohi.
Namun disekitar kawasan taman nasional manusela terdapat desa desa atau Negeri yang memang sulit dijangkau oleh siapapun yang berkunjung kesana,karena harus melewati pegunungan dengan menggunakan jalan kaki,
Tingkat pendidikan pada daerah yang berada di sekitar pegunungan masih jauh dari harapan tujuan pendidikan, tenaga guru bahkan kemampuan kognitif siswa sangat rendah.Untuk itu diupayakan bagaimana meningkatkan kualitas pembelajaran pada sekolah yang berada pada daerah yang sulit dijangkau seperti ini.
Salah satu hal yang dikaji penulis adalah : Penerapan sistim pembelajaran tutorial teman sebaya dan out door learning pada siswa SD SMP maupun SMA pada daerah-daerah yang sulit dijangkau,Hasil penelitian menunjukan efektifitas sistim pembelajaran tutorial sebaya dan out door learning dapat meningkatkan kemampuan kognitif siswa dan minat siswa terhadap pendididkan mencapai target yang diharapkan(hasil penelitian selengkapnya dapat menghubungi penulis)
Selasa, 02 November 2010
MENERAPKAN KONSEP PENCEMARAN MELALUI PENGGUNAAN TANAMAN BIDHURI (Calotropis gigantea) SEBAGAI INSEKTISIDA ALAMI YANG RAMAH LINGKUNGAN
Menerapkan cara menanggulangi pencemaran lingkungan merupakan hal yang mudah dilaksanakan siswa setelah mempelajari konsep pencemaran lingkungan tetapi bagaimana mengajarkan siswa untuk memahami hal-hal yang sulit diterapkan memang membutuhkan ketelitian namun menarik untuk dipelajari. Salah satunya adalah memanfaatkan pestisida alami yang ramah lingkungan. Berbagai dampak negatif pada lingkungan biotik dan abiotik yang diakibatkan oleh penggunaan pestisida kimia mengakibatkan hama yang menyerang tanaman pertanian memiliki potensi daya tahan yang diwariskan secara genetik yang akan mengekspresikan diri bila dirangsang dengan pestisida dan juga pada pestisida tertentu dapat merubah fisiologi tanaman dan merubah struktur jaringan tanaman hingga hama dapat hidup lebih subur.Oleh karena itu kita perlu mencari alternatif insektisida buatan yang bahan-bahannya diambil dari alam misalnya dari tanaman-tanaman tertentu seperti penggunaan tanaman bidhuri(Calotropis gigantea) Eksperimen ini dilakukan untuk mengetahui apakah tanaman bidhuri dapat dijadikan sebagai insektisida dan bagaimana cara pembuatannya.Hasil penelitian berhasil yaitu 1.Siswa berminat dalam melakukan eksperimen ini karena praktis dilakukan
2.Spontanitas pemahaman siswa dan kecintaan terhadap alam sekitar dapat dirasakan oleh siswa karena dengan sendirinya mereka mulai melestarikan tanaman bidhuri dan memanfaatkannya sebagai pestisida alami
3.siswa dapat memperkenalkannya kepada masyarakat tentang pestisida alami yang berasal dari daun dan bunga tanaman bidhuri
2.Spontanitas pemahaman siswa dan kecintaan terhadap alam sekitar dapat dirasakan oleh siswa karena dengan sendirinya mereka mulai melestarikan tanaman bidhuri dan memanfaatkannya sebagai pestisida alami
3.siswa dapat memperkenalkannya kepada masyarakat tentang pestisida alami yang berasal dari daun dan bunga tanaman bidhuri
Penerapan model pembelajaran Jigsaw di SMA Negeri I Masohi pada Pembelajaran Biologi
Pendidikan adalah kehidupan,dan kehidupan harus dipersiapkan menurut kebutuhan cita-cita dari manusia itu sendiri, sebab cita-cita setiap manusia sebenarnya itulah tujuan hidup. Secara normal setiap insan manusia dalam hidupnya pasti mengidamkan apa yang disebut meraih “ Tarap Hidup Yang Lebih Baik “ yang selanjutnya mengarah pada hidup yang sukses. Banyak orang mempercayai bahwa untuk dapat meraih kesuksesan hidup yang lebih baik adalah melalui upaya-upaya pendidikan yang tepat,atau dengan perkataan lain bahwa pendidikan adalah kunci yang strategis untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik.
Persoalan sekarang adalah mampukah kita merumuskan indikator manusia sukses yang diinginkan ? sebab indikator orang-orang yang sukses itulah sebagai referansi pokok dan esensi dalam pengembangan kurikulum melalui strategi mengajar yang digunakan. Manusia sukses yang dimaksudkan disini adalah orang yang mampu meraih kesuksesan dengan tetap pada koridor kebenaran. Konsep biologi yang dibelajarkan di SMA masih perlu dikaji mendalam, oleh karena itu belajar biologi akan lebih menarik minat siswa jika penyajian bersifat kongkrit dan melibatkan siswa secara aktif baik dari segi mental maupun fisik.
Siswa belajar berdasarkan tingkat perkembangan,tujuannya untuk lebih banyak membantu siswa menjelaskan peristiwa –peristiwa fisis yang terjadi dialam sekitar dan dalam kehidupan sehari-hari.Dalam National Science Education Stantard (1996:20), dikatakan bahwa belajar sains adalah sesuatu yang harus dilakukan siswa bukan sesuatu yang dilakukan pada mereka.Dalam belajar sains, siswa menggambarkan benda dan kejadian, bertanya, mendapatkan pengetahuan melalui penjelasan tentang phenomena alam,menguji penjelasan tersebut dengan beberapa cara yang berbeda, dan mengkomunikasikan pikiran mereka kepada siswa yang lain. Jadi belajar sains adalah suatu proses aktif.
Dengan demikian upaya siswa untuk mendapatkan pengetahuan sendiri dan kemudian mengkomunikasikan pikiran mereka kepada siswa lain merupakan kunci utama keberhasilan, oleh karena itu peranan guru sebagai motor utama yang memiliki tanggung jawab langsung untuk menterjemahkan kurikulum kedalam aktivitas pembelajaran dan bukan satu-satunya sumber utama pengetahuan, artinya sebagai seorang guru tugasnya bukan lagi sebagai sumber pembelajaran tetapi memfasilitasi agar informasi baru menjadi bermakna, memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri, dan hal ini sangat berkaitan dengan bagaimana seorang guru menerapkan model atau strategi mengajar yang tepat
Bertolak pada pengalaman melalui sebuah observasi diri berdasarkan berbagai model pembelajaran yang diterapkan maka yang menyebabkan siswa kurang berhasil dalam suatu proses pembelajaran dikelas dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :
1. Telah berakarnya kebiasaan mengajar dengan menggunakan metode ceramah sehingga guru terlalu banyak berperan dan tidak memberi kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi karena guru lebih mengutamakan target pencapaiaan kurikulum dibandingkan dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
2. Latar belakang kehidupan siswa akibat kemampuan orang tua sehingga kurang tersedianya buku-buku penunjang, sebagai akibat siswa tidak tahu kemana ia dapat mengatahui semua itu.
3. Kurang tersedianya buku –buku penunjang yang disediakan disekolah sebagai sumber belajar.
4. adanya perasaan sungkan, takut terhadap guru sebagai tutor dibandingkan dengan siswa temannya sehingga apa yang dijelaskan oleh temannya lebih
mudah dimengerti dibandingkan dengan yang dijelaskan oleh guru.
Mengacu pada pemikiran dan hasil observasi diatas mendorong penulis
untuk mempasilitasi dan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada siswa secara aktif bukan saja dalam menemukan serta memiliki keahlian terhadap sesuatu yang belum diketahui tapi berani juga menyampaikan gagasan atau pikirannya kepada siswa teman sebayanya.
Permasalahan kurangnya fasilitas dan kesempatan bagi siswa untuk menemukan sendiri dan menyampaikan pikirannya kepada siswa lain akan dicoba diatasi dengan menerapkan suatu model pembelajaran yang dikembangkan oleh Aronson, Blaney, Stephen, Sikes and Snapp (1978) yakni model pembelajaran Jigsaw (Model TIM Ahli) Model ini dirancang untuk melatih siswa menemukan serta memiliki keahlian dari apa yang telah dipelajarinya serta mampu mengkomunikasikannya dengan mengajarkan teman lain tentang apa yang telah diketahuinya.
Berdasarkan hal hal yang dikemukakan diatas maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul Upaya peningkatan hasil belajar biologi melalui penerapan model pembelajaran jigsaw pada SMA negeri I Masohi
Kegiatan Inti pada pemebelajaran JIGSAW
1.Siswa dikelompokkan ke dalam 5 anggota tim
2.Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda
3.Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan
4.Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka.
5.Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh
6.Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
Kegiatan Penutup
1.Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki kinerja dan kerjasama yang baik.
2.Peserta didik (dibimbing oleh guru) berdiskusi untuk membuat rangkuman.
3.Guru memberikan evaluasi
4.Guru memberikan tugas untuk dikerjakan di rumah
(Informasi lengkap mengenai penerapan model pembelajaran jigsaw dapat menghubungi penulis)
Persoalan sekarang adalah mampukah kita merumuskan indikator manusia sukses yang diinginkan ? sebab indikator orang-orang yang sukses itulah sebagai referansi pokok dan esensi dalam pengembangan kurikulum melalui strategi mengajar yang digunakan. Manusia sukses yang dimaksudkan disini adalah orang yang mampu meraih kesuksesan dengan tetap pada koridor kebenaran. Konsep biologi yang dibelajarkan di SMA masih perlu dikaji mendalam, oleh karena itu belajar biologi akan lebih menarik minat siswa jika penyajian bersifat kongkrit dan melibatkan siswa secara aktif baik dari segi mental maupun fisik.
Siswa belajar berdasarkan tingkat perkembangan,tujuannya untuk lebih banyak membantu siswa menjelaskan peristiwa –peristiwa fisis yang terjadi dialam sekitar dan dalam kehidupan sehari-hari.Dalam National Science Education Stantard (1996:20), dikatakan bahwa belajar sains adalah sesuatu yang harus dilakukan siswa bukan sesuatu yang dilakukan pada mereka.Dalam belajar sains, siswa menggambarkan benda dan kejadian, bertanya, mendapatkan pengetahuan melalui penjelasan tentang phenomena alam,menguji penjelasan tersebut dengan beberapa cara yang berbeda, dan mengkomunikasikan pikiran mereka kepada siswa yang lain. Jadi belajar sains adalah suatu proses aktif.
Dengan demikian upaya siswa untuk mendapatkan pengetahuan sendiri dan kemudian mengkomunikasikan pikiran mereka kepada siswa lain merupakan kunci utama keberhasilan, oleh karena itu peranan guru sebagai motor utama yang memiliki tanggung jawab langsung untuk menterjemahkan kurikulum kedalam aktivitas pembelajaran dan bukan satu-satunya sumber utama pengetahuan, artinya sebagai seorang guru tugasnya bukan lagi sebagai sumber pembelajaran tetapi memfasilitasi agar informasi baru menjadi bermakna, memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri, dan hal ini sangat berkaitan dengan bagaimana seorang guru menerapkan model atau strategi mengajar yang tepat
Bertolak pada pengalaman melalui sebuah observasi diri berdasarkan berbagai model pembelajaran yang diterapkan maka yang menyebabkan siswa kurang berhasil dalam suatu proses pembelajaran dikelas dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :
1. Telah berakarnya kebiasaan mengajar dengan menggunakan metode ceramah sehingga guru terlalu banyak berperan dan tidak memberi kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi karena guru lebih mengutamakan target pencapaiaan kurikulum dibandingkan dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
2. Latar belakang kehidupan siswa akibat kemampuan orang tua sehingga kurang tersedianya buku-buku penunjang, sebagai akibat siswa tidak tahu kemana ia dapat mengatahui semua itu.
3. Kurang tersedianya buku –buku penunjang yang disediakan disekolah sebagai sumber belajar.
4. adanya perasaan sungkan, takut terhadap guru sebagai tutor dibandingkan dengan siswa temannya sehingga apa yang dijelaskan oleh temannya lebih
mudah dimengerti dibandingkan dengan yang dijelaskan oleh guru.
Mengacu pada pemikiran dan hasil observasi diatas mendorong penulis
untuk mempasilitasi dan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada siswa secara aktif bukan saja dalam menemukan serta memiliki keahlian terhadap sesuatu yang belum diketahui tapi berani juga menyampaikan gagasan atau pikirannya kepada siswa teman sebayanya.
Permasalahan kurangnya fasilitas dan kesempatan bagi siswa untuk menemukan sendiri dan menyampaikan pikirannya kepada siswa lain akan dicoba diatasi dengan menerapkan suatu model pembelajaran yang dikembangkan oleh Aronson, Blaney, Stephen, Sikes and Snapp (1978) yakni model pembelajaran Jigsaw (Model TIM Ahli) Model ini dirancang untuk melatih siswa menemukan serta memiliki keahlian dari apa yang telah dipelajarinya serta mampu mengkomunikasikannya dengan mengajarkan teman lain tentang apa yang telah diketahuinya.
Berdasarkan hal hal yang dikemukakan diatas maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul Upaya peningkatan hasil belajar biologi melalui penerapan model pembelajaran jigsaw pada SMA negeri I Masohi
Kegiatan Inti pada pemebelajaran JIGSAW
1.Siswa dikelompokkan ke dalam 5 anggota tim
2.Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda
3.Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan
4.Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka.
5.Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh
6.Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
Kegiatan Penutup
1.Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki kinerja dan kerjasama yang baik.
2.Peserta didik (dibimbing oleh guru) berdiskusi untuk membuat rangkuman.
3.Guru memberikan evaluasi
4.Guru memberikan tugas untuk dikerjakan di rumah
(Informasi lengkap mengenai penerapan model pembelajaran jigsaw dapat menghubungi penulis)
Uji daya bunuh Plasmodium malariae secara Invitro dengan menggunakan ekstrak daun pepaya(Carica papaya)melalui Praktikum Biologi di Laboratorium SMA Negeri I Masohi
Berdasarkan informasi dari Subdinas Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Propinsi Maluku, sebagian besar daerah-daerah di Maluku termasuk daerah endemis malaria tinggi, dengan angka temuan kasus antara 57 kasus per 1000 jiwa setiap tahunnya. Seorang penderita malaria dapat dihinggapi lebih dari satu jenis plasmodium, infeksi demikian merupakan infeksi campuran antara Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax atau dengan Plasmodium malariae. Infeksi campuran ini biasanya terdapat di daerah yang tinggi angka penularannya. Nyamuk Anopheles merupakan vektor utama malaria dan penularannya melalui gigitan Anopheles betina yang mengandung sporozoit yang infektif (Rampengan, 1997).
Penemuan obat-obat antimalaria diharapkan dapat menyediakan obat baru dengan mekanisme dan target obat yang potensial dan aman bagi manusia. Pepaya juga menjadi bahan perawatan terkenal bagi penduduk Aborijin Australia untuk membantu persalinan, mengendalikan kelahiran dalam beberapa kasus di Papua New Guenea, dan sebagai alat kontrasepsi. Daun pepaya terkandung senyawa alkaloid karpain, caricaksantin, violaksantin, papain, saponin, flavonoida, politenol, dan saponin. Daun pepaya juga mengandung protein tinggi, lemak, vitamin, kalsium (Ca) dan zat besi (Fe) yang berfungsi sebagai pembentukan hemoglobin (Tietze,1997).
Untuk itu penulis bersama siswa mengadakan penelitian dengan judul Uji daya bunuh Plasmodium malariae secara Invitro dengan menggunakan ekstrak daun pepaya(Carica papaya)melalui Praktikum Biologi di Laboratorium SMA Negeri I Masohi
Penemuan obat-obat antimalaria diharapkan dapat menyediakan obat baru dengan mekanisme dan target obat yang potensial dan aman bagi manusia. Pepaya juga menjadi bahan perawatan terkenal bagi penduduk Aborijin Australia untuk membantu persalinan, mengendalikan kelahiran dalam beberapa kasus di Papua New Guenea, dan sebagai alat kontrasepsi. Daun pepaya terkandung senyawa alkaloid karpain, caricaksantin, violaksantin, papain, saponin, flavonoida, politenol, dan saponin. Daun pepaya juga mengandung protein tinggi, lemak, vitamin, kalsium (Ca) dan zat besi (Fe) yang berfungsi sebagai pembentukan hemoglobin (Tietze,1997).
Untuk itu penulis bersama siswa mengadakan penelitian dengan judul Uji daya bunuh Plasmodium malariae secara Invitro dengan menggunakan ekstrak daun pepaya(Carica papaya)melalui Praktikum Biologi di Laboratorium SMA Negeri I Masohi
Cacing tanah (Lumbricus rubellus ) sebagai media pembelajaran Biologi serta pemanfaatannya secara ekonomis dikalangan siswa
Cacing tanah ( Lumbricus rubellus ) merupakan hewan invertebrata yang tergolong dalam phylum Annelida, kelas Chaetopoda, habitatnya pada tanah seperti pada lantai-lantai kebun yang penuh dengan daun-daun, tempat-tempat yang lembab, dibawah kandang ternak maupun dihalaman rumah dan juga pekarangan sekolah. Cacing tanah bila dipelajari secara taksonomi, memiliki beragam jenis bukan hanya jenis Lumbricus yang disebut sebagai cacing tanah tetapi juga Eisena dan Allolobophora, Letak perbedaannya hanya secara morfologi (bentuk tubuh luar),walaupun secara umum kurang diperhatikan oleh masyarakat tetapi menarik untuk dipelajari karena memberikan banyak manfaat bagi kehidupan kita dan juga penting dalam proses rantai makanan yang berlangsung di alam. Pemanfaatan secara efisien dikalangan siswa membantu mempermudah pemahaman siswa karena dapat berfungsi sebagai media pembelajaran serta dapat dimanfaatkan secara ekonomis di kalangan siswa.
Pekarangan sekolah yang begitu luas pada sekolah SMA Negeri 1 Masohi, menimbulkan ide ide yang secara alamiah timbul dalam pikiran guru dan siswa untuk memanfaatkannya sebagai pekarangan yang multi guna selain pemanfaatan pekarangan sekolah sebagai tempat untuk menanam berbagai jenis tanaman umur pendek seperti sayur-sayuran, ketela pohon, ubi jalar. Kini sebagian pekarangan di usahakan sebagai tempat untuk beternak cacing tanah sekaligus sebagai media pembelajaran mata pelajaran biologi kelas X SMA Negeri 1 Masohi. Keunggulan khusus dari ide ini karena cacing tanah merupakan hal baru digunakannya sebagai media pembelajaran secara nyata dan dapat dimanfaatkan secara ekonomis dikalangan siswa
Pekarangan sekolah yang begitu luas pada sekolah SMA Negeri 1 Masohi, menimbulkan ide ide yang secara alamiah timbul dalam pikiran guru dan siswa untuk memanfaatkannya sebagai pekarangan yang multi guna selain pemanfaatan pekarangan sekolah sebagai tempat untuk menanam berbagai jenis tanaman umur pendek seperti sayur-sayuran, ketela pohon, ubi jalar. Kini sebagian pekarangan di usahakan sebagai tempat untuk beternak cacing tanah sekaligus sebagai media pembelajaran mata pelajaran biologi kelas X SMA Negeri 1 Masohi. Keunggulan khusus dari ide ini karena cacing tanah merupakan hal baru digunakannya sebagai media pembelajaran secara nyata dan dapat dimanfaatkan secara ekonomis dikalangan siswa
Langganan:
Postingan (Atom)
LATIHAN SOAL TAHAP 4 BIOLOGI UNBK 2020
PETUNJUK : 1. PILIHLAH OPTION YANG ANDA ANGGAP BENAR 2. SELESAIKANLAH ESSAY DENGAN BAIK ...
-
PETUNJUK : A. KERJALAH DI KOLOM KOMENTAR B. PILIHLAH OBTION YANG TEPAT, Setelah anda memilih obtion yang tepat, anda perlu me...
-
PETUNJUK 1. ANDA LANGSUNG MEMILIH OPTION YANG TEPAT 2. KIRIM SEPERTI YANG ANDA LAKUKAN KEMARIN 3. LATIHAN SEKALIGUS TUGAS PORTOFOLIO 4. ...
-
Jawablah di kolom komentar pertanyaan di bawah ini : 1. Jelaskan 4 dampak eksploitasi hewan secara berlebihan 2. Jelaskan 2 dampak peneba...













